Home » » Menikmati Sajian Khas Singapura Yang Nikmat

Menikmati Sajian Khas Singapura Yang Nikmat

makanan singapura

Singapura merupakan destinasi wisata yang banyak di kunjungi warga Indonesia, mungkin karena jaraknya yang berdekatan. Jika anda tertarik untuk pergi ke singapra, jangan lupa untuk mencicipi aneka makanan yang tersaji di sana, seperti yang wahoe.info kutip dari CNN.
 Dari arah Victoria Street, Singapura, CHIJMES hanya tampak seperti sebuah gereja peninggalan kolonial dari masa lalu. Namun di dalamnya, bekas biara tersebut menyimpan banyak kumpulan restoran dengan berbagai pilihan kuliner.

Salah satu restoran Coriander Leaf terletak di lantai dua bangunan bagian belakang CHIJMES. Dari arah plaza, tertutup rimbunan pohon, plang restoran ini terpasang menyambut para pelanggan.

Menuju restoran ini tak ubah seperti masuk ke sebuah kelas sekolah di lantai dua, terpencil dan sedikit tersiram sinar matahari. Namun di dalam, nuansa modern langsung menyapa.

Tak terasa bila ini adalah restoran yang menyimpan beragam menu koleksi dari seluruh Asia. Nuansa motif manik di dinding dengan susunan bangku seperti restoran modern pada umumnya tak membuat ekspektasi terlalu tinggi.

Restoran ini memang menawarkan banyak menu. Beberapa disebut berasal dari berbagai daerah di Asia, otentik katanya. Sebagian yang lain, adalah ciptaan dari restoran yang dipimpin oleh chef Iskander Latiff ini.

Salah satu menu yang sempat dicoba adalah hidangan mirip dim sum, hanya tersaji di atas piring bukan kukusan bambu. Namun itu bukan chineese dim sum, melainkan menurut Latiff adalah dim sum dari Nepal. Di negara asalnya, dim sum Nepal ini disebut sebagai momo.

Bila pernah membayangkan dim sum atau siomay yang terbuat dari ayam, cukup tambah dengan sedikit rasa kari.

"Makanan mirip dim sum itu aslinya adalah makanan kaki lima di Nepal. Kami sama sekali tidak mengganti resep dan rasanya, dan ingat, Nepal adalah peralihan dari Asia Timur dan Selatan. Ini yang membuatnya jadi unik," kata Latiff saat berbincang dengan CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu di Singapura.

Latiff dan tim memang punya misi khusus dari restoran yang sempat menyandang restoran terbaik di Singapura pada 2015 ini. Mereka berkelana keliling Asia hanya ingin mengenalkan makanan terbaik di benua dengan populasi terbesar di dunia itu.

"Saya berkeliling Asia, baik itu Indonesia, Asia Tenggara, semua. Kami belajar budaya kuliner di negara dan kami kembangkan di sini," kata Latiff.

"Kami ingin menyampaikan kepada pelanggan bahwa makanan Asia bukan hanya mi, dim sum, atau nasi goreng semata. Namun banyak juga yang belum diketahui publik dunia dari Amerika dan Australia. Banyak yang otentik dan dunia tidak tahu," kata Latiff.

chef Iskander Latiff memimpin timnya untuk mendapatkan cita rasa terbaik AsiaFoto: CNN Indonesia/Endro Priherdityo
chef Iskander Latiff memimpin timnya untuk mendapatkan cita rasa terbaik Asia
Berkeliling ke berbagai negara, termasuk Indonesia, Latiff membawa pulang setidaknya resep makanan yang ia pikir terbaik. Dari Indonesia, Latiff mengatakan ia terpikat akan kecap manis.

Kecap manis yang biasa hanya digunakan di Indonesia sebagai bumbu tambahan bakso atau nasi goreng, ia pakai untuk perasa utama steak. Menurut Latiff, kecap manis akan membuat steak memiliki aroma asap lebih kuat dan manis yang meresap hingga serat dalam daging.

Latiff juga mengatakan ia terinspirasi oleh kekayaan sambal Indonesia. Ia pun mencoba membuat sambal khas sendiri, walaupun tidak 'seganas' buatan tangan orang Indonesia.

Inspirasi yang datang dari berbagai belahan Asia juga jadi bahan menu otentik khas restoran ini. Beberapa yang patut dicoba ketika datang ke Coriander Leaf adalah menu kepiting kulit lunak yang disiram dengan saus asin.

Pria yang sudah menjadi koki 15 tahun itu menggunakan kepiting yang tengah dalam proses berganti kulit sehingga lapisan cangkang tersebut memungkinkan untuk dimakan. Kepiting ini kemudian digoreng dengan balutan tepung garing, dan disiram bumbu telur bebek asin dan daun kari.

Menu iga domba yang dibuat Latiff tak kalah menggoda. Menu bernama charcoal grilled baby lamb chops tersebut menggunakan 'bayi' domba delapan bulan asal Selandia Baru dan masih memiliki daging yang empuk.

Iga tersebut kemudian dimarinasi dalam bumbu selama lebih dari satu hari. Bumbu yang digunakan mirip dengan bumbu ayam tanduri kemudian diberi pasta cabai, perasan lemon, dan yoghurt. Setelah dibumbui selanjutnya dipanggang dengan arang agar aroma asap jadi kuat, kata Latiff.

Rasanya, paduan antara makanan kaya rempah, pedas, segar, dengan daging domba yang tak perlu upaya keras untuk memisahkannya dari tulang. Aroma asap semakin menambah selera.

Latiff yang pernah memenangkan perlombaan kuliner antar top chef Singapura pada 2010 lalu ini ternyata bukan hanya pandai membuat menu utama. Salah satu hidangan penutup yang patut dicoba adalah white rabbit ice cream sandwich, dan acovado ice cream with fried bananas.

Ada kisah personal di balik white rabbit ice cream sandwich. Bahan utama sandwich es krim tersebut adalah permen white rabbit yang populer dan biasa dikonsumsi Latiff ketika muda. Ia ingin membagi nostalgia itu kepada pelanggannya.

Sedangkan avocado ice cream with fried bananas menyimpan sisi kenangan Latiff akan Indonesia. Inspirasi menu itu datang saat ia datang ke Indonesia dan mencicip jus avokad.

"Saya ingat waktu itu saya sangat menikmati jus avokad dan saya ingin membawa itu ke Singapura. Saya pikir, pisang goreng adalah teman jus avokad yang paling tepat," kenang Latiff.

Restoran ini menyediakan menu per paket, salah satunya adalah menu makan siang. Untuk menu ini, terbagi paket South Asia, China, dan Persia yang seharga mulai dari S$35 atau Rp350 ribu.

"Kami punya koleksi terbaik dari makanan terbaik di Asia, mulai dari Jepang hingga Turki. Saya sebagai seorang Asia sangat bangga akan budaya dan kuliner Asia, entah itu Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand, saya bangga semuanya." kata Latiff.

Follower